Wednesday, 7 November 2007

071107

Lelaki belum menjadi laki-laki, ia masih anak-anak.  Jika bayi belum punya kesadaran mungkin wajar jika ia tidak tahu tanggal berapa sebenarnya ia dilahirkan.  Usia yang terus berulangpun tak pernah ia ingat, sebab ia tak tahu apa memang diperlukan. Setiap kali mengisi data tanggal lahirnyapun, ia selalu bertanya untuk apa? Sebuah pertanyaan yang wajar ditanyakan oleh seorang anak dengan dunia kecilnya. Hampir semua teman sekelasnya juga begitu, televisi yang ada cuman TVRI yang tak banyak membantu memberi gambar, maka sudah tentu ia tak tahu apa itu ulang tahun.





Bahkan sampai kelas enam sekolah dasarpun, ia masih tak tahu tanggal berapa sebenarnya yang harus ditulis pada suatu kolom TANGGAL LAHIR, dibawah kolom NAMA. Selama ini setiap kali gurunya meminta data itu ia selalu menulis tanggal yang berbeda yang dipilih dari Januari hingga Desember dari tanggal 1 sampai tanggal 31 secara random, tergantung perasaaan, atau lebih tepatnya ia terlupa terakhir kali mengisi data seperti ini angka berapa yang ia isikan. Beberapa bulan ke depan ujian akhir akan tiba, bapak guru minta tanggal yang pasti, katanya kali ini tanggal tidak bisa diganti-ganti lagi. Surat kelahiran yang dibikin sudah lama raib entah kemana, sedang bapak dan ibu tidak punya catatan. Bagaimana dengan Kartu keluarga, ah sama saja kartu itu tanggalnya juga dibuat oleh pak RT dengan otoritas penuh.





Di suatu pagi yang cerah bulan Mei, datanglah bapak si anak ke kantor kelurahan. Sayangnya disana pun tidak ada catatan tentang tanggal lahir anak-anak. Akhirnya si anak mendapatkan tanggal lahir dari salah satu pejabat desa, si bapak hanya bilang iya, sebab ia merasa tidak lebih pintar untuk menentukan tanggal lahir anaknya sendiri.  Maka terpilihlah tanggal 20 Mei, suatu tanggal yang tidak jelas dapetnya dari mana, mungkin karena hari itu adalah pertengahan bulan Mei, atau suatu perlambang tentang kebangkitan, tidak ada yang tahu.





Tetapi pada suatu hari nanti si anak akan tahu bahwa pada dasarnya tanggal lahir adalah sesuatu yang bisa diatur. Dan pada si anak inilah sebuah kejadian lumayan aneh, akte kelahiran dibuat setelah ijazah dibuat, akte disesuikan dengan tanggal yang ada di ijazah. Sehingga sejak saat itu tanggal 20 Mei tercantum di ijazah SD, dan menjadi official date bagi semua dokumen resmi. Dan seterusnya.





Setelah beberapa tahun, si anak penasaran juga mengetahui  tanggal lahirnya sendiri, meskipun sebenarnya tidaklah essential untuk tahu, sebab umur tetap saja tidak bisa dihitung karena itu adalah jarak antara kematian dan kehidupan. Kematian adalah absolute misteri sedang kelahiran adalah tidak, tetapi membiarkan keduanya misteri dengan mengetahuinya salah satu sebenarnya tidaklah ada bedanya.





Demi sebuah tuntutan curiosity-lah, yang pada dasarnya mengilhami semua orang, sehingga ia memutuskan mencari ulang. Beberapa hari kemudian ditemukannlan catatan ibu-ibu PKK. Berdasarkan catatan itu ia terlahir pada tanggal 7 November. Apakah catatan ini layak dipercayai? Untuk sementara ini iya, sampai ada mesin pemutar waktu untuk uji validasinya...Catatan itu ada di seorang ibu, tinggal disebelah rumahnya persis, yang rajin mendokumentasikan siapa-siapa ibu yang melahirkan di kampung itu. Kebenaran kadang memang tidak perlu jauh untuk ditemukan.





Si anak yang tumbuh menjadi lelaki terus berjalan berupaya menyelesaikan seluruh hidup yang datang satu persatu seperti sebuah frame. Ia menyusuri jalan, mendaki dari satu bukit ke bukit yang lain. Ketika sampai di puncak bukit tertentu ia pun melihat ke bukit yang lain yang sepertinya lebih indah atau lebih tinggi. Maka ia pun susuri terus setiap jalan untuk menuju bukit-bukit itu... satu persatu. Di setiap jalan, di tikungan, di lembah, dan di bukit tertentu kadang ia temukan prasasti, yang serupa denganya ataupun berbeda sama sekali.





Seingatnya dulu waktu kecil ia pernah punya suatu cita-cita, mempunyai sebuah pistol mainan dengan harga sepuluh ribu rupiah. Sebegitu kuatnya hingga ia bertekat ketika itu, jika ia punya uang, pistol itulah yang akan dibelinya. Tetapi beberapa tahun lagi setelah benar-benar ia bisa mendapatkan uang sendiri, pistol mainan tidak menarik lagi buat lelaki. Ia paham bahwa keinginan pun selalu berevolusi sepanjang waktu, seperti suatu yang hidup. Terus berubah, satu dicapai ia ingin yang lain.





Selama ini ia merasakan bahwa semua jalan yang pernah terlewati dan bukit bukit yang pernah didaki seringkali tidak sama dengan apa yang direncanakan. Sepertinya,









Peta hidup yang sesungguhnya hanya bisa dibuat setelah hidup itu sendiri.Disana akan ada terjal yang tak disangka, juga keindahan yang tak terduga.

Jalan-jalan dan bukit-bukit itu lebih indah dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya, lebih indah dari sebuah mimpi pada malam-malam kecilnya dulu. Harapan mejadi sebuah kenyataan yang lebih lagi. Maka sungguh benar firman Tuhannya,





Kamilah pelindung pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula didalamnya apa  yang kamu minta” (Al Quran, 41:31)

Lalu apa perlu kemudian ketakutan untuk terus menyusuri jalan-jalan masih terbentang? Rasa-rasanya tidak meskipun banyak harapan yang terus tumbuh seperti sebuah pohon-pohon yang baru ditanam, bersemi dengan daun kecil, dan terancam kematian akibat kemarau yang kadang datang tanpa diminta. Ada satu keindahan lagi yang terlihat samar untuk didaki dengan sepenuhnya. Teman, sahabatnya telah memberi semangat untuk terus berjalan, sedang ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sebab ia tahu bukit yang satu ini sifatnya tidaklah jauh beda dengan sebelumnya, tetap tak ada peta ditangan, yang ada hanya ada tanda panah dan sedikit dokumen yang agak rumit dibaca saat-saat ini. Tetapi apapun yang terjadi di jalan nanti insyaallah adalah yang terbaik untuk mengisi apa yang disebut HIDUP, semoga!









Alhamdulillah



07.11.07













































Monday, 8 October 2007

pacarku sayang!

Gerimis malam itu memecahkan tangisnya, hujan tidak sederas airmatanya, dan badai tidak sekuat benci dalam hatinya. Perasaan yang tidak begitu jelas dari mana sumber sesungguhnya, tapi yang bisa dipastikan laki laki yang memicunya. Laki-laki yang selama ini ia sebut sebagai pacar. Meskipun ia tidak tahu darimana istilah “pacar” itu datang. Suatu kali aku iseng bertanya kepadanya “Emang pacar itu apa?”. “Ah nggak penting lah istilah, kamu tahu sendiri kenyataannya bagaimana” jawabnya.









“Iya seih, Raja Majapapit juga nggak pernah pacaran, makanya di dalam buku sejarah tidak ada istilah pacaran, di Eropa juga tidak ada istilah pacaran yang ada itu boyfriend, apa sama boyfriend dan pacar, tidak tahu, yang jelas kalo seorang cewek punya boyfriend, mereka bisa tinggal serumah, seranjang, di negaraku  itu  tidaklah wajar, bisa-bisa didobrak sama hansip” Pikiranku berlogika sendiri tanpa komando. Istilah pacar memang membingungkan, Akhirnya yang terlihat menjadi terjemahan, selama ini yag aku tahu ia selalu sering dengan laki laki itu, di Hpnya banyak kata-kata “Say”, yang sering dipamerkannya kepadaku seringkali. Maka aku manut saja dengan dunia, sebut saja itu pacaran.









“Emang gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama dia?” Aku pura-pura tidak tahu apa-apa





“Pacaran?”





“Iya” Kataku menegaskan





“Waktu itu kita tidak pernah bahas soal istilah, maksudnya, saat itu dia bilang sayang sama aku dan nyatanya aku juga suka sama dia, jadilah kami seperti itu”





“Maksudnya, selalu berdua gitu!”





“Iya..begitulah”





“Lalu..!”





“Sekarang dia pergi dengan perempuan lain”





“Alasannya?”





“Katanya dia tidak cocok lagi sama aku”





“Kamu menerima alasan itu?”





“Jelas tidak donk, ini pengkhianatan bagiku”





“Pengkhianatan!, Kok bisa?”





“Iya donk, ia mengkhianati komitmen, untuk saling menyayangi!”





Ada kemitment seperti itu emang”





“Nggak jelas, cuman aku udah menyerahkan semua perasaanku sama dia, sampe hampir mati”.









Halilintar menyambar dalam ruang langit yang lagi gerimis, memutuskan dialog dalam sekejab, tentang soerang perempuan yang mencintai laki laki setengah nyawa, dan kini laki laki itu telah bahagia masyuk bersama istrinya. Lucu memang banyak perempuan yang seperti itu, tetapi begitulah sebagian dunia bicara tentang fakta. Ketika banyak perempuan menentang poligami semakin banyak pula perempuan yang memikirkan laki laki yang telah beristri.









Beberapa minggu yang lalu, sebelum hari ini,  aku bertanya pada lelaki itu, kenapa ia meninggalkan temanku. Apakah alasan hingga ia begitu “tega” meninggalkan orang yang mencintai dirinya. Orang yang rela memberikan hidup, bahkan bisa juga nyawanya.









“He..he…” laki laki itu malah tersenyum, aku jadi keheranan, Ah bajingan benar laki-laki ini, berani-beraninya tersenyum di atas penderitaan temanku





“Kenapa kamu tertawa?” tanyaku dengan muka muak





“Sebelumnya saya minta maaf, dan saya sudah minta maaf pada temanmu itu“” Jawabnya





“Saya tidak yakin dia bisa menjadi istri saya meskipun dia adalah pacar saya, makanya ketika ada perempuan lain yang saya lihat lebih bisa menjadi istriku aku berani meninggalkan dia” Lanjutnya









“Bagaimana kamu tahu”, Gertakku





“logika dan rasa”, katanya





“Maksudmu?”





“Logikaku mengatakan tidak dan rasaku berpindah ke perempuan lain”





“Kok bisa, kamu tidak kasihan”





“Kasihan bagaimana?”, Jawabnya dengan nada tinggi





“Pacaran kan pacaran yang artinya penjajakan, kalo nggak cocok dan menemukan perempuan lain kenapa tidak?” Lanjutnya lagi





“Wah kamu kejam…”





“Hai...kamu!, perempuan juga bisa melakukan itu, tidak hanya laki laki, semua orang bisa melakukan itu”





“Tetapi temanku kan tidak, dia sangat mencintai kamu, bukannya dia berhak mendapatkan cinta kamu“ , Aku berargument.





“Saya juga berhak mendapatkan cinta dari perempuan lain bukan?” pungkasnya, sedang tak ada kata lagi yang musti terungkap dariku.









Dialogku dengan laki laki itu membawa pengertian, bahwa amat sangat rumit menentukan kejam atau tidak kejam dalam hubungan pacaran. Amat sulit mendeterminasikan cinta dalam hubungan yang tak bereferensi, yang banyak orang sebut sebagai pacaran. Cinta kini menjadi menjadi benci dalam ruang kata itu dan sedikit ornamen dendam dipermukaannya. Begitulah mungkin yang ada dalam hati temanku yang satu ini, yang sekarang duduk disampingku, yang mungkin masih mendifinisikan pacaran sebagai komitmen sepanjang waktu, sedang laki-laki mantan pacarnya menyebutnya sebagai “penjajakan”. Wah.. dunia sering tidak bertemu dalam satu definisi rupanya, karena sepertinya dunia sendiri tidaklah berdefinisi.















Aalborg, 07.10.07





~W~







































































































































































































Monday, 20 August 2007

pagi

“Ah laki laki, Apa yang kamu cari ” seorang perempuan berkata. Laki laki pagi tersenyum dalam cerah langit yang tak berawan. Hanya diam saja.





“Bukannya kecantikan dan tubuh seksi yang kamu cari”, tebak perempuan itu.



“Kalo itu, aku bisa beli”, Laki laki itu dimasuki dunia yang terlalu siang dan gersang, yang tidak paham alur cerita tapi fakta telah ada di depan mata. Tidak tahu siapa penulis cerita, tidak menahu soal produser, yang ia tahu film itu sudah jadi, berjudul “prostitusi, uang dan laki-laki”. Ia melihat fakta.





“Bukannya perempuan cerdas yang kamu cari?” Perempuan itu bertanya lagi.



“Bukannya aku sudah cukup cerdas, aku tidak mencari saingan” Jawab laki laki itu. Ia pikir kecerdasan tak bisa diukur satu alat saja. Dan lebih sering juga tak bisa dilihat oleh mata dalam perbuatan. Kecerdasan dalam pikiran, termasuk hati didalamnya.





“Ah kamu sombong”, Perempuan senja menuduh



“Orang diam saja bisa disebut sombong” Jawabnya dalam paradigma ruang persepsi, dan sombong adalah persepsi sang pembaca.





“Bukannya yang kamu cari adalah yang menarik, anggun....begitukah?” perempuan itu masih punya banyak pertanyaan yang bersilang dengan tampak fisik dan kecurigaan.





Laki laki terdiam, tidak tersenyum. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan dalam pilihan antara garis dusta dan kejujuran. Matahari, sang  bunda mencahaya ke dalam pikir dan hati setiap hari, setiap waktu.





“Menarik!”, nada tinggi laki laki pagi,



“Bukannya semua perempuan menarik” pekiknya





“Terus apa yang kamu cari?” Ini adalah pertanyaan yang kesekian kali, tidak sering terjawab dengan mudah olehnya, tidak ada pengetahuan tentang itu, kecuali sedikit saja. Itu tidak lebih mudah daripada menemukan pulau terpencil di ujung dunia tanpa peta.





“Menemukan satu peristiwa, dimana ada hati berkata.. inilah .. merangkai peristiwa sesudahnya, satu persatu, tak perlu tergesa gesa, santai saja, perlahan...! Hitam putih kuning biru.... Memaksa otak menumbuhkan bunga tidur di kala malam..dan menjadi minuman di kala pagi...airmata dan gigi gigi yang belum tumbuh..menjadi cerita yang lebih panjang lagi..sebutlah kemudian itu apa saja..terserahmu”  Laki laki membuat prosa pagi dalam hening samudra dalam, yang mungkin akan segera terik dan tiba tiba  menjadi badai.





Perempuan itu kini telah bersayap dalam hati yang tidak percaya, dalam pikiran curiga. Dan ia terbang jauh menuju langit para bidadari untuk berembuk siapa yang akan turun menemani laki-laki pagi berlayar. Dengan ijin dewa tentunya.





~w~



Saturday, 11 August 2007

bukan belahan jiwa

Cow:   Kamu bukan hanya belahan, tapi sepenuhanya jiwaku



Aku mau melakukan apa saja untukmu



Cew:   Hayahhhh… gombal, kamu mau tak suruh lompat dari sini!



Cow:   Lompat dari sini, lantai 101?



Cew:   Iya!



Cow:   Aku mau!



Cew:   Beneran…hiiiii…asyikkk!



Cow:   Terus kalo aku lompat, kamu gimana?



Cew:   Aku!



Cow:   Iya! Kamu!



Cew:   Aku akan ke lantai 107



Cow:   Emang ngapain?



Cew:   Ikut lompat juga hihiihiii, hanya mastiin aku akan lebih mati dari kamu



Cow:   <pause>





Hamburg 12.08.07



~w~

Friday, 13 July 2007

Kupu-kupu di ruang kaca

Suatu sore didalam bus diiringi oleh terik matahari yang tidak menyengat. Langit cerah berdampingan dengan matahari bersinar terang di ujung langit. Musim semi memang telah tiba, serangga mulai bermunculan, termasuk juga seekor lebah yang kini sedang terperangkap disini, di dalam bus.





Sang Lebah hanya memutar-memutar saja disana,di sebuah jendela yang tembus pandang “kaca”. Sesekali berhenti, memutar lagi, berhenti lagi, hingga suatu saat berhenti cukup lama dan terbang lagi, begitu terus.





Sebuah memori lama kembali menginginkan kesadaran. Seekor kupu kupu indah terdiam di suatu sudut jendela “kaca” di bagian ruagan kantor setahun yang lalu, meskipun banyak lubang angin di sudut-sudut jendela itu, kupu kupu itu tidak bisa keluar dan mati. Andai saja ia mampu menemukan jalan yang cukup terbentang di sudut jendela mungkin ia tidak disana ia mungkin tidak akan mati. Keindahan yang ternyata hanya sampai disitu.





“Kaca” bukanlah sebuah dinding bagi lebah dan kupu kupu. Tidak mungkin di tembus kecuali pecah. Tidak ada didalam insting-nya bahwa ada jalan lain untuk keluar menuju kebebasan. Lubang angin yang bukan kaca di sekitar jendela, atau pintu bus yang  terbuka ketika berhenti di halte.





Hanya keyakinan berusaha keras, hanya keyakinan dan terbang terus sebagai bagian yang disebutnya sebagai usaha. Hanya terbang, dan terus terbang akhirnya mati. Keyakinan dan usaha tidaklah mesti berarti. Karena keyakinannya di dunia yang itu-itu saja, dunia yang memberikan keyakinan bahwa disanalah pintu keluar, sedangkan di tempat lainlah berdiri pintu yang sesungguhnya.





Dunia yang usang dan primitive. Dunia yang itu itu saja, dunia jaman siapa yang banyak harta dialah yang berkuasa dan berhak memperkosa dan memaksa. Dunia manusia mengendalikan manusia, dunia yang tidak juga berkembang, meskipun klaim manusia modern ada di mana mana. Klaim tentang bermacam macam kecerdasan meskipun tidak lebih hanya sebuah metaphore.





Sebuah arus yang sama “materialis” dibungkus kata gaul dan metropolis.  Sebuah pemahaman yang katanya “visionis” tetapi nyatanya itu-itu saja “karir, uang, dan jabatan”.





Dunia itu itu saja, dunia dengan senyum palsu setiap pagi dan ketawa lepas setiap malam, sedangkan di ujung yang lain masih ada juga makluk yang bernama manusia harus meneteskan air mata. Airmata dan tertawa adalah satu panggung, panggung kehidupan. Tuhan mungkin sengaja menciptakan semua ini, sebagaimana Tuhan menciptakan kupu kupu indah dan mentakdirkannya mati di sudut jendela kaca. Tetapi kemanusiaan adalah pikiran dan pikiran adalah takdir.





Salam,



~w~



































Thursday, 12 July 2007

Smart

Lebih mudah  mana memilih antara dua hal, atau memilih diantara banyak hal. Mungkin sebagian dari kamu akan menjawab “tergantung donk, milih apa dulu”, jawaban tergantung inilah yang merupakan indikasi suatu kesulitan dalam memilih. Lebih mudah memang jika ada pilihan dari pada tidak ada pilihan. Jika pilihannya dua,  bagi sebagian orang akan relatif mudah, tetapi bagaimana jika pilihan itu tiga, empat, atau lebih dari itu, bagaimana memilihnya seringkali mejadikan kita pusing kepala, apalagi jika ternyata yang kita pilih adalah pilihan yang kurang tepat.









Dunia berkembang dengan pertumbuhan yang exponential, dengan pertumbuhan itu jumlah pilihan yang menghadang kita akan terus bertambah terus setiap harinya. Apakah ini akan mempermudah seseorang, jawabannya bisa iya bisa juga tidak.









Contohnya, sekarang dengan akses internet, seseorang bisa menikmati berita dari mana saja, kapan saja, dan dimana saja, semakin banyak pilihan, tidak seperti dulu lagi, harus menunggu berita dari TVRI saja misalnya. Tentu dengan semakin banyaknya berita ini, harusnya orang akan menjadi semakin pintar, karena adanya penyebaran informasi yang semakin banyak, cepat dan sedikit batas, tetapi apakah kenyataannya begitu, khusus bagi bangsa kita saya rasa belum.









Kenapa bisa begitu, saya kira problemnya adalah pada soal memilih tadi. Semakin banyak berita berarti semakin sulit untuk menentukan mana yang dibaca mana yang tidak, mana yang bisa membikin sakit kepala, bikin cerdas, dan mana pula yang hanya membuat kita menjadi tambah bodoh. Dunia yang begitu banyak informasi, yang seharusnya menjadi seperti ladang yang luas yang penuh dengan tanaman yang menyehatkan, tapi lama-lama akan  menjadi seperti pasar yang kacau, padat, dan penuh dengan sampah. Akhirnya sebagain besar orang akan kesulitan untuk memilih mana barang bagus, dan mana pula yang pada dasarnya adalah sampah semata.









Seperti kata Michael Gelb, dulu orang orang orang kesulitan untuk belajar meditasi karena harus pergi ke Tibet, tetapi sekarang orang sulit memilih website mana yang menyediakan meditasi yang benar, (How to think like Leonardo da Vinci, 2000). Hal ini memperkuat dugaan bahwa sekarang kesulitan sesorang justru menentukan pilihan bukan pada tahapan mencarinya.









Disinilah menurut saya pentingnya konsep “smart” perlu direvisi ulang pada diri kita masing-masing sesuai dengan jamannya. Seseorang yang dikatakan “smart” adalah sesorang yang bisa memilih dengan tepat berdasarkan kebutuhan. Bukan hanya pada kemampuan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan menimbunnya di dalam otak.









Keahlian memilih akan menjadi instrument penting karena sebagian besar waktu hidup kita adalah untuk memilih. Semakin tepat membuat pilihan berarti semakin reliablenya hidup kita selanjutnya. Semakin reliable berarti ada kemungkinan besar bahwa kita akan mengakiri hidup ini dengan happy ending.









Dalam agama Islam pun membuat pilihan adalah urusan yang cukup penting, sehingga ada sholat khusus, shalat istikharah, sholat bagi seseorang yang ingin membuat keputusan. Ini menandakan bahwa proses mengambil keputusan memang bukan sesuatu yang mudah.









Maka hati hati dalam mengambil keputusan atas suatu pilihan, mengingat sulitnya mengambil keputusan itu, dengan juga mepertimbangkan efeknya yang luar biasa bagi kehidupan selanjutnya. Hati hati untuk mengatakan”tidak” atau ”iya”, terhadap sesuatu, hati hati bukan kecurigaan, karena kecurigaan lebih berasosiasi negatif, sedang hati-hati menurut saya lebih kearah sumbu positif. So selamat memilih and be smart!











































































salam,



~w~

Friday, 18 May 2007

Main main dengan harga baju!!

Suatu ketika saya berjalan jalan di kawasan pertokoan di Hamburg, ada satu baju yang bagus ternyata setelah di cek harganya adalah 30 Euro (€). Hmmm.. setelah ingat Rupiah jadi kebayang nieh harganya menjadi 30  dikalikan dengan  12.000 artinya adalah 360.000 Rupiah . Sebagai informasi tambahan, baju itu bukan di outlet baju kelas atas melainkan di oultet menengah di kota ini.





Jadi inget waktu dulu jalan jalan di Matahari (TP atau Delta) baju yang sekelas ini harganya adalah 150 ribu Rupiah. Tapi mahal mana sieh sebenarnya antara 30 € dengan 150.000 Rupiah.





Saya agak takut bikin avarage tetapi gaji seorang fresh graduate di Surabaya mungkin sekitar 1,2 -2 juta rata-rata adalah Rp. 1.5 juta. Di jakarta agak lebih tinggi rata rata sekitar antara 2.5 sampai 4 juta.





Lalu mari kembali ke harga baju tadi, lalu kita bikin index harga 100 ribu dengan gaji 1,5 juta Rupiah berarti adalah 150/1500 sama  dengan 1/10, jadi kamu akan membelanjakan 1/10 gaji jika ingin membeli baju itu jika belinya di Surabaya dengan gaji bulanan di Indonesia.





Sekarang coba lihat apakah 1/10 juga kalo di Hamburg. Berdasar informasi gaji paling rendah disini adalah 1500 €, sudah dipotong tax..jadi kalo dibikin indexnya bakalan 30/1500 itu sama dengan 1/50, jadi kamu cuman membelanjakan 1/50 dari total gaji.





Sekarang jika dibandingkan maka jelas 1/10 jauh lebih tinggi dari pada 1/50 bahkan jauh banget. Makanya harga 30 € yang rupiahnya adalah Rp. 360 ribu adalah murah karena cuman 1/50 dari gaji bulanan seorang pekerja dengan gaji paling rendah.





Karena indexnya dibikin dari harga dan gaji, maka ada dua pertanyaan buat Indonesia menyangkut gaji kita ini; harga yang terlalu mahal atau gaji yang terlalu rendah .he..he.. Jawabannya boleh kedua duanya donk!





Harga komoditi lain misalnya alat alat komunikasi antara di Indonesia dengan di Hamburg mungkin bisa dikatakan hampir tidak jauh beda. Tetapi dengan penghasilan yang cukup orang orang di sini sangat sangat mampu untuk membeli barang dengan mudah, karena pendapatan mereka yang mencukupi. sedang di Indonesia akan sangat berat untuk membeli barang-barang tersebut.





Sebagai contoh seorang PNS yang baru masuk mungkin harus menabung satu tahun dan rela tidak beli pakaian setahun penuh untuk membeli labtob Toshiba, yang disini bisa dibeli dari separo gaji sebulan J . Amazing nggak!!.......





Mungkin ini yang disebut negara maju versus negara miskin. Tetapi kenapa ya siklus ekonomi yang kayak begini ada di Indonesia agak aneh memang, tapi begitulah Indonesia selalu "full of mistery", makanya I love indonesia gara gara misteriusnya juga. Solusi yang paling enak adalah bekerja di Indonesia dengan gaji Eropa kali ya.. he.he.. :) !!!







































Thursday, 29 March 2007

Serius..!!

Sebut saja B, Ia berumur 30 tahun, udah punya dua anak, istrinya tidak bekerja. Sudah tiga tahun ini dia kerja di Jakarta, kerjaannya serabutan dan tentu penghasilannya tidaklah jelas. Tiga bulan ini rejekinya seret, dan selama tiga bulan itu kontrakan rumahnya belum dibayar. Maka besok pagi adalah hari terakhir dia harus bayar kontrakan itu, jika enggak dia dan keluarganya harus segera keluar. “Ini serius, bayar atau keluar!” Begitu kata yang punya rumah.









Seorang anak pengin kuliah, SPMB dua kali enggak beruntung juga, bukan karena enggak pinter, tetapi hanya tidak terlalu pinter. Cari beasiswa di sekolah swasta! mana juga ada. Akhirnya ia mutuskan kuliah D3 di perguruan tinggi swasta yang tidak terlalu bonafit juga. Besok harus bayar 5 juta sebagai cicilan uang gedung kalo enggak ya nggak dapet nomer mahasiswanya donk!. “Saya tidak sedang bercanda, serius! bayar atau  tidak kuliah!” Begitu kata petugas administrasinya.









Seorang ibu punya hutang di bank, ceritanya sejak tiga tahun yang lalu suaminya enggak bisa bekerja lagi lantaran sakit dan harus berobat, kemudian ibu itu pinjam uang di bank untuk menyambung hidup dan menjadikan rumahnya yang merupakan harta terakhir sebagai jaminan. berharap suaminya akan sembuh, harapan tinggal harapan suaminya enggak sembuh semuh juga, eh malah sakit parah. Akhirnya utang di bank tidak bisa dibayar dan ini serius besok pengadilan akan menyita rumahnya!!





Hidup penuh dengan hal hal serius!!











Seorang mahasiswa tidak pernah masuk kuliah, alasannya nggak pernah jelas, dikasih tugas juga enggak dikerjakan. Tugas yang  kedua, dia mengerjakan, tapi sayang jawabannya sama persis dengan jawaban temannya. Tugas ketiga disuruh browsing di internet, eh dapetnya artikel satu lembar, dan enggak di terjemahkan pula ke bahasa indonesia, padahal tugasnya bikin artikel bukan print artikel, terakhir setelah tahu hasil ujiannya dapet 30, ia datang dan minta diluluskan, alasan kalo enggak dirinya akan di  DO. Dosennya berpikir “Apakah mahasiswa ini tidak sedang bercanda”









Sebuah cerita dari teman; Seorang bekerja di kantor X. dateng jam 8 lebih sedikit, kemudian buka buka koran, terus buka komputer..browsing sana sini..udah dech jam 12. Setelah itu break makan siang..untung masih ingat sholat..jam satu balik kantor buka kerjaannya ngerjain dikit..jam dua udah mulai agak agak limbung. Coba jalan jalan, katanya untuk refreshing masak kerja mulu begitu katanya…ketemu temennya di ruang sebelah..ngobrol nggak karuan, eh udah jam tiga ..ingat kerjaanya belum selesai..baliklah dia..bekerja lagi..eh udah jam 4, terus pulang. “aku kan dibayar sampe jam 4” begitu katanya



Pada kenyataanya banyak juga yang menganggap hidup ini tidaklah serius!















Kelihatannya orang yang mengontrakan rumah itu tega karena mengusir orang yang jelas memang nggak punya uang. Sebuah sekolah juga kelihatan tega nggak menerima seseorang untuk kuliah karena enggak punya uang. Kok tega juga sebuah bank menyita rumah sebuah keluarga yang lemah. Tega kemudian menjadi sesuatu yang sulit dipikirkan, ditakuti, tetapi sudah nyata, dan biasa terjadi.



















Kenyataannya hidup bukanlah main main….Serius!!



















Friday, 9 March 2007

“I love you” really?

























Ada yang tahu apa bahasa Indonesianya “love” kalau seseorang bilang “I love you” apa artinya “aku sayang kamu”, atau “Aku cinta kamu”. Kelihatannya memang sinonim, tapi kayaknya harus hati-hati, karena bagi sebagian orang kata “cinta” atau kata “sayang” punya makna yang berbeda, bahkan bisa jadi menunjukan suatu tingkatan dan kualitas yang berbeda pula.



Umumnya kata cinta digunakan oleh  sebagaian orang untuk urusan personal yang lebih sempit dibanding kata sayang; contohnya dalam hubungan romantis antara dua orang. Sedangkan dalam hubungan yang lebih luas, banyak orang lebih suka menggunakan kata sayang, contohnya hubungan dengan sahabat. Mengingat sahabat umumnya lebih dari satu.









Beberapa orang berpendapat bahwa bahasa selalu berkaitan dengan faktor budaya, makanya seringkali banyak kata kata asing yang tidak bisa langsung diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain. Sebagai contoh kata “melakukan” dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa ingris bisa “do” “make” atau “conduct”, tergantung dimana kata itu dimaksudkan (kata akan menghasilkan bahasa Inggris yang natural bila phrasenya adalah hasil dari pasangan kata yang sesuai).









Budaya bisa mengandung makna segala hasil budi dan daya, atau segala hasil pemikiran manusia baik dari hasil pemikiriran dan physical implementation-nya maka disinilah bahasa sangat dekat dengan hasil pemikiran dan aktualisasi fisiknya.









Jika pengertian diatas  di gunakan maka akan ditemukan hal yang menarik dalam kalimat “I love you”, ataupun “Aku cinta kamu”. Untuk lebih mudahnya anggap saja kini dua kalimat itu punya pengertian yang sinonim. Kalimat itu kalo dicermati makna fisiknya kalimat tersbut  bisa jadi bukan pernyatan ingin Memberi cinta tetapi adalah sebuah pernyataan ingin Meminta cinta. Benarkah?









Setiap kali sesorang bilang bilang “I love you”, kebanyakan orang nggak akan merasa happy kalo pasangannya tidak membalasnya dengan jawaban “I love u too”…atau ketika seseorang mengatakan “Aku cinta kamu”..maka kebanyakan orang akan butuh jawaban “Aku juga cinta sama kamu”. Tetapi kebayaknya ini hanya terjadi pada kasus hubungan cinta lelaki dan perempuan (romantic love) bukan jenis sayang pada yang lain; contohnya sayang antara anak dan ibu, atau perasaan sayang seseorang terhadap sesama manusia yang tidak ada unsur romantic-nya











Fenomena diatas merupakan  salah satu alasan kenapa seseorang yang patah hati akan merasakan perasaan yang multi tidak karuan (maksudnya campur aduk antara benci, dendam dan juga cinta, makanya ada syair lagunya slank “...I love U but I hate U...). Hal itu terjadi jika sesorang tidak mendapatkan jawaban “I love you too”, dan kebanyakan mengalami penderitaan. Teori umumnya seperti yang dikatakan Helen fisher (pengarang buku why we love) dan diulas juga di majalah newscientist.com. bahwa dalam urusan cinta setiap manusia cenderung dalam situasi trade off antara pleasure and pain (maksimalisasi kesenangan dan meminimalkan penderitaan). Jika cinta ditolak maka seseorang dalam kondisi pain tapi jika diterima maka dalam kondisi pleasure.









Maka tak mengherankan jika pasangan dalam kondisi saling mencintai, mereka menemukan titik pleasurenya, titik kesenangan yang paling tinggi. Tetapi sebaliknya jika cinta ditolak seseorang akan sangat menderita(pain) . Maka mungkin ada nggak tepatnya juga kalo ada yang bilang aku mencintaimu adalah sebuah ungkapan ingin memberi dengan tulus, karena pada kenyataanya kalo cinta itu ditolak akan terjadi amarah dan pederitaan baginya. Bisa jadi atau boleh jadi kalo sesorang bilang aku  mencintaimu, sebenarnya ia dalam konsidi ingin mencintai dirinya sendiri dalam context ingin mendapatkan pleasure untuk dirinya, buktinya kalo gagal ia akan marah dan menderita karena tidak dapat mencapai kondisi pleasure itu. Jadi kalo ada orang yang bilang “aku mencintaimu” mungkin maksud dia adalah “cintailah aku, kalo enggak awas ya!! he..he..!!!)